Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Fahruddin Faiz Ajak Anak Muda Lawan Nafsu Konsumtif dengan Tirakat Ekologis

Yogyakarta, Bimas Islam – Di tengah derasnya arus konsumsi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, mengajak generasi muda melatih diri menahan nafsu membeli sebagai bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan. Ia menyebut praktik tersebut sebagai tirakat ekologis, yaitu disiplin menahan nafsu konsumtif demi menjaga kelestarian alam.
 
“Ada satu mentalitas yang harus kita perangi benar-benar: mentalitas konsumtif,” tegas Fahruddin Faiz dalam acara Bincang Syariah Goes To Campus bertajuk Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom di UIN Yogyakarta, Senin (15/9/2025). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari program Blissful Mawlid yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.
 
Menurutnya, sikap konsumtif tidak hanya memanjakan produsen, tetapi juga menyengsarakan individu dan merusak tatanan ekologis. Ia menilai perubahan pola pikir sangat penting, dari sekadar konsumen menjadi produsen nilai.
 
“Bukan hanya mengurangi belanja, tetapi juga mengembangkan kapasitas untuk memberi, berinovasi, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang,” jelasnya.
 
Generasi Muda Rentan Konsumtif
 
Fahruddin Faiz mengungkapkan, mahasiswa dan Gen Z merupakan kelompok yang paling rentan terjebak dalam pola hidup konsumtif: cepat lulus, segera bekerja, lalu membeli barang demi barang. Budaya digital, kata dia, turut memperkuat pola tersebut melalui perilaku scrolling tanpa henti dan promosi diskon berbasis urgensi yang memicu pembelian impulsif.
 
Ia menggambarkan strategi produsen yang secara sengaja menciptakan budaya konsumsi berulang, mulai dari pembaruan gawai setiap beberapa tahun hingga godaan flash sale.
 
“Di sinilah penting membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau dibiarkan, konsumtif akan menggerus kemandirian individu sekaligus daya tahan kolektif menghadapi kondisi ekstrem,” ujarnya.
 
Praktik Tirakat Ekologis
 
Sebagai solusi, Fahruddin Faiz menyarankan praktik sederhana namun bermakna, seperti membawa botol minum sendiri ke kafe, membatasi waktu scrolling di marketplace, serta mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membeli.
 
“Mengendalikan mental konsumtif sebagai tirakat ekologis adalah latihan disiplin yang membangun resiliensi individu dan komunitas,” ucapnya.
 
Ia menambahkan, menahan diri dari konsumsi berlebihan juga memiliki alasan etis dan praktis. Salah satunya, membangun kemampuan menghadapi ketidakpastian zaman, termasuk krisis energi, gangguan pasokan, bahkan kemungkinan konflik.
 
Kemenag Dorong Umat Jadi Teladan
 
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa pengendalian diri dalam konsumsi sejalan dengan prioritas Kemenag di bidang ekoteologi.
 
“Kementerian Agama mendorong agar nilai-nilai agama hadir nyata dalam praktik menjaga bumi. Karena bumi ini adalah amanah yang harus diwariskan dengan baik kepada generasi mendatang,” ungkap Arsad.
Tagar Terkait:
#KUA#BinaSyariah#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial FN · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua