Oleh: Ahmad Zulfi Aufar
ASN Ditjen Bimas Islam
Ia datang ke Madinah tanpa pasukan dan tanpa jabatan, hanya membawa Al-Qur'an dan kesantunan. Dua tokoh yang semula bersikap keras pun luluh. Apa rahasia seorang pemuda yang mampu menyatukan hati banyak orang?
Setiap 28 Oktober, bangsa ini mengenang ikrar para pemuda pada 1928 yaitu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Seiring berjalannya waktu, ikrar itu tidak lagi hanya menjadi catatan sejarah, melainkan pertanyaan yang terus relevan: bagaimana pemuda dapat menjadi perekat di tengah masyarakat yang kian beragam?
Khazanah Islam menyediakan cermin yang menarik. Al-Qur'an menyebut sekelompok pemuda sebagai fityah, yakni mereka yang beriman kepada Tuhannya, lalu Allah menambahkan petunjuk kepada mereka (QS. Al-Kahfi: 13). Al-Qur'an juga menegaskan adanya uswah hasanah, teladan yang baik, pada diri Rasulullah SAW (QS. Al-Ahzab: 21). Dua gagasan ini, pemuda dan keteladanan, bertemu pada sosok Mus'ab bin Umair.
Mus'ab tumbuh sebagai pemuda Makkah yang hidup dalam kecukupan. Ketika hidayah datang, ia memilih iman dengan segala konsekuensinya, termasuk melepas kenyamanan yang selama ini dinikmatinya. Pilihan itu menjadi pondasi kepercayaan: orang cenderung mendengar mereka yang telah membuktikan kesungguhan nilai yang diyakininya.
Setelah Baiat Aqabah pertama, Rasulullah SAW mengutusnya ke Madinah untuk mengajarkan Al-Qur'an. Riwayat dalam kitab sirah mencatat bahwa ketika Usaid bin Hudhair dan Sa'd bin Mu'adz mendatanginya dengan sikap keras, Mus'ab tidak membalas dengan perdebatan. Ia mempersilahkan keduanya duduk dan mendengarkan. Sikap tenang itu membuka ruang dialog, dan keislaman keduanya kemudian membawa pengaruh besar bagi kaum mereka.
Tentu, kajian yang jujur perlu mencatat bahwa Mus'ab tidak menyatukan Madinah seorang diri. Perannya lebih tepat dipahami sebagai pembuka jalan, yang menyiapkan hati masyarakat sehingga kedatangan Nabi SAW kelak disambut dengan lapang. Namun dari kisah ini tampak satu pelajaran penting: persatuan jarang lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari kepercayaan, dan kepercayaan tumbuh dari akhlak, melalui cara menyambut, mendengar, dan menahan diri.
Pelajaran lain datang dari Zaid bin Tsabit, yang sejak belia dipercaya menulis wahyu. Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan bahwa ia mempelajari bahasa asing dalam waktu singkat untuk membantu urusan Nabi SAW. Kelak, ia memiliki peran besar dalam pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar dan Utsman. Dari sini kita memahami bahwa kepercayaan umat kerap diberikan kepada pemuda yang sungguh-sungguh menimba ilmu, serta mampu menjaga kesatuan pesan di tengah keberagaman.
Bila dua kisah ini dibaca berdampingan, tampak bahwa persatuan dibangun oleh tiga hal yang saling menguatkan. Pertama yaitu keteladanan, sebab sikap yang konsisten lebih lama membekas daripada slogan yang lantang. Kedua adalah ilmu, karena kompetensi membuka pintu amanah. Ketiga, kelembutan dalam berinteraksi yang membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Ketiga hal ini terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Pemuda kini hidup di ruang yang serba terhubung, tempat gagasan menyebar dalam hitungan detik dan perbedaan pendapat mudah memanas. Di ruang seperti itu, kemampuan mendengar sebelum menanggapi, menguasai bahasa zaman tanpa kehilangan akar nilai, dan menjaga konsistensi antara ucapan dan perbuatan menjadi bentuk kontribusi yang nyata. Kontribusi tersebut tidak selalu tampil di panggung besar. Ia hadir pada keluarga yang dipertemukan dengan tenang, warga yang merasa didengar, dan generasi muda yang merasa dipahami oleh orang-orang yang membimbingnya.
Dengan demikian, Sumpah Pemuda dapat dimaknai bukan hanya sebagai peristiwa yang diperingati, melainkan sebagai amanah yang terus dihidupkan. Mus'ab bin Umair tidak meninggalkan gedung atau kekuasaan, tetapi jejak teladan yang menyatukan hati. Dari sumpah menuju teladan, itulah jalan yang ditempuh para pemuda yang menjadi perekat bangsanya.
Maka, pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: ikrar apa yang sedang kita hidupkan melalui keteladanan kita sendiri?

