Lebih lanjut politisi partai demokrat ini menguraikan, bahwa kebenaran bisa dibagi menjadi 5 bagian. Pertama, kebenaran dari Allah, dalam hal ini terwujud dari al-Quran. Semua yang dari al-Quran mutlak benar. Kedua, kebenaran dari Nabi barupa Hadits, yang juga mutlak benarnya, meskipun ada tingkatan hadits. Ketiga, kebenaran dari para sahabat, yang berarti kualitas kebenarannya tergantung dari intensitas pertemuan para sabahat dengan nabi dan kemampuan individu. Keempat, kebenaran para mujtahid, yang memiliki tingkatan sesuai kemampuan masing-masing melalui hasil ijtihadnya. Kelima, kebenaran hasil dari pemikiran kaum muslimin. “Dengan beragamnya tingkat kebenaran itu, maka sebuah pemahaman keagamaan tidak bisa mutlak benarnya, sehingga menyalahkan orang atau kelompok lain”, terangnya.
Ketika ditanyatakan bagaimana cara Bimas Islam melakukan pembinaan kepada mereka, menurutnya, harus dilakukan dengan cara informal. “Ajaklah mereka berdialog secara informal, jangan undang mereka dalam forum-forum resmi, nanti mereka seperti merasa dipojokkan atau diadili, sehingga sulit mendekati mereka. Kelompok ini bisa seperti itu karena paham keislaman yang tidak utuh, sehingga perlu didekati dan diajak bicara dari hati ke hati. Inilah peran psikologi dakwah sangat diperlukan”, tutupnya. (bieb/foto:bimasislam)
Kontributor & Unit Kerja
Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.







