Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Ngaji Budaya Kemenag, Sabrang Letto Ajak Gen Z Belajar Cintai Diri Sendiri

Semarang, Bimas Islam — Seniman dan budayawan, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang akrab disapa Noe Letto, mengajak generasi muda untuk memahami makna mencintai diri sendiri secara utuh, baik untuk masa kini, masa lalu, maupun masa depan. Pesan tersebut ia sampaikan dalam acara Ngaji Budaya: Haflah Mawlid Rasul yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di UIN Walisongo Semarang, Kamis (2/10/2025).
 
Menurut Sabrang, cinta sejati bukan sekadar memanjakan diri pada masa sekarang, tetapi juga memastikan masa depan tidak menjadi korban keputusan yang salah saat ini.
 
“Karena kamu mencintai dirimu yang masa depan, sehingga kamu bersedia bersusah payah hari ini, agar masa depanmu menjadi lebih baik,” ujarnya.
 
Sabrang mengawali refleksinya dengan pertanyaan sederhana kepada audiens: apakah diri kita lima tahun lalu masih sama dengan diri kita hari ini? Ia menilai, setiap orang pasti mengalami perubahan menjadi lebih dewasa dan berpengalaman. Perubahan tersebut merupakan tanda bahwa seseorang berkembang ke arah yang lebih baik.
 
Dalam konteks cinta, Sabrang mengulas kehidupan mahasiswa. "Apakah kuliah dijalani dengan senang hati atau karena terpaksa? Meskipun terkadang lebih menyenangkan untuk bolos, banyak mahasiswa tetap memilih hadir karena ada bentuk cinta yang lebih besar, yakni cinta terhadap diri mereka di masa depan," tuturnya.
 
Ia mengungkapkan, tindakan yang terasa berat saat ini—seperti belajar atau bekerja keras—merupakan bentuk kasih sayang terhadap masa depan diri sendiri. Hal tersebut juga berlaku dalam menjalankan perintah agama. Misalnya, berpuasa terasa berat, tetapi tetap dilakukan karena ada cinta terhadap nasib kelak di hadapan Tuhan.
 
Menurut Sabrang, mencintai diri tanpa mempertimbangkan dampaknya di masa depan sama saja dengan perilaku hewan yang hanya memenuhi kebutuhan sesaat. “Self love itu penting, tapi jangan hanya mencintai diri hari ini, lupa mencintai diri di masa depan,” tegasnya.
 
Ia mengingatkan, perilaku buruk yang dilakukan hari ini dapat menjadi penyesalan di masa depan. Karena itu, mencintai diri juga berarti menjaga masa depan agar tidak dirugikan oleh keputusan saat ini. Dalam konteks ini, ia menegaskan relevansi keteladanan Rasulullah yang menolak tawaran kekayaan dan kekuasaan demi keselamatan akhirat.
 
Bagi Sabrang, cinta sejati tidak berhenti pada diri sendiri. Ia mencontohkan orang tua yang memaksa anaknya belajar atau bahkan menghukum anaknya bukan karena tidak sayang, tetapi justru demi kebaikan anak di masa depan.
 
“Menghukum itu bukan tidak mencintai anaknya. Kalau kesalahannya jelas, justru itu mencintai nasib anaknya di masa depan,” pungkasnya.
Tagar Terkait:
#KUA#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial FN · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua