Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Masjid Agung Sumedang, Tempat Istirahat Sekaligus Wisata Sejarah Religi Pemudik

Sumedang, Bimas Islam — Masjid Agung Sumedang menjadi salah satu destinasi favorit pemudik yang melintasi wilayah Sumedang. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid berstatus cagar budaya ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi istirahat yang nyaman sekaligus wisata religi bernilai sejarah.
 
Pada musim mudik, masjid yang terletak di kawasan Alun-alun Sumedang ini tampak ramai disinggahi para musafir. Mereka tidak hanya melepas lelah setelah perjalanan panjang, tetapi juga menikmati keindahan arsitektur masjid yang sarat nilai historis.
 
Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, menyampaikan bahwa kehadiran masjid ramah pemudik menjadi bagian penting dari layanan keagamaan kepada masyarakat.
“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan umat. Kehadiran fasilitas yang ramah pemudik menjadi bentuk nyata kepedulian masjid terhadap kebutuhan masyarakat di perjalanan,” ujarnya.
 
Hal senada disampaikan oleh Penghulu KUA Sumedang Selatan, Solehudin. Ia menuturkan bahwa Masjid Agung Sumedang memiliki daya tarik tersendiri karena nilai sejarahnya yang masih terjaga.
 
“Banyak pemudik yang singgah bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga ingin mengetahui sejarah masjid ini. Ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan warisan budaya Islam di Sumedang,” katanya.
 
Warisan Sejarah Sejak Abad ke-19
 
Masjid Agung Sumedang dibangun pada tahun 1850 di atas tanah wakaf milik Raden Dewi Siti Aisyah. Pembangunannya diprakarsai oleh Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Suria Kusumah Adinata yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sugih.
 
Pembangunan dimulai pada 3 Juni 1850 (4 Rajab 1267 H) dan rampung pada 5 Juni 1854. Pada awalnya, masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 6.755 meter persegi dengan luas bangunan 583,66 meter persegi.
 
Seiring perkembangan waktu, bangunan masjid mengalami perluasan pada masa kepemimpinan Pangeran Aria Suria Atmadja atau Pangeran Mekah. Perluasan dilakukan pada bagian depan serta sisi utara dan selatan, dengan pengawasan penghulu K.H.R. Muhammad Hamim.
 
Perpaduan Arsitektur yang Unik
 
Keunikan Masjid Agung Sumedang juga terlihat dari perpaduan gaya arsitekturnya. Bangunan ini mengadopsi unsur budaya lokal, Tiongkok, dan Eropa.
 
Pengaruh Tiongkok tampak pada bentuk atap bertingkat tiga yang menyerupai pagoda, serta ornamen ukiran yang menghiasi bagian interior. Sementara itu, sentuhan arsitektur Eropa—khususnya gaya kolonial Belanda—terlihat pada bentuk kolom bergaya Yunani dan jendela besar dengan lengkungan setengah lingkaran.
 
Perpaduan tersebut mencerminkan akulturasi budaya yang terjadi pada masa pembangunan masjid, sekaligus memperkaya nilai historisnya.
 
Tetap Kokoh dan Terawat
 
Sepanjang perjalanannya, Masjid Agung Sumedang telah mengalami beberapa kali renovasi tanpa menghilangkan karakter aslinya. Pemugaran dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan jamaah, termasuk penambahan fasilitas seperti tempat wudhu, toilet, dan area istirahat.
 
Dengan fasilitas yang semakin memadai dan nilai sejarah yang kuat, Masjid Agung Sumedang kini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang singgah yang representatif bagi para pemudik.
 
Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa rumah ibadah dapat berperan lebih luas—sebagai tempat beristirahat, sarana edukasi sejarah, sekaligus simbol peradaban Islam yang terus hidup di tengah masyarakat.
Tagar Terkait:
#Wakaf#InfoMasjid#KUA#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial MWR · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.