Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Blissful Mawlid Bimas Islam: Perempuan dan Anak Paling Rentan terkena Bencana Ekologi

Yogyakarta, Bimas Islam – Aktivis dan penulis muda, Kalis Mardiasih, mengungkapkan bahwa perempuan dan anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak bencana ekologis. Mulai dari krisis air bersih, polusi udara, hingga berkurangnya lahan subur untuk pangan, semua menekan kebutuhan dasar yang erat dengan peran perempuan.
 
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Bincang Syariah Goes To Campus, Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Senin (15/9/2025).
 
“Perempuan kerap menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ekologi. Dari menyiapkan makanan, mencuci beras, hingga kebutuhan air bersih untuk kehamilan dan menyusui, semuanya bergantung pada sumber daya alam,” ujar Kalis.
 
Ia menambahkan, para ibu sering melihat langsung bagaimana krisis lingkungan memengaruhi anak-anak. “Ibu-ibu tahu betul dampak itu. Mereka melihat anaknya batuk-batuk karena udara kotor, atau sulit mencari air bersih untuk kebutuhan harian,” jelasnya.
 
Kalis mencontohkan, banyak ibu di perkotaan seperti Jakarta mengeluhkan anak-anaknya sering terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi itu berbeda dengan daerah seperti Yogyakarta yang masih memiliki kualitas udara relatif lebih baik.
 
Inspirasi dari Kisah Siti Hajar
 
Dalam pandangan Kalis, kisah Siti Hajar yang berlari mencari air untuk Nabi Ismail di padang pasir menjadi simbol perjuangan perempuan dalam menghadapi krisis ekologis.
“Cerita itu menggambarkan bagaimana perempuan sejak dulu menjadi sosok yang paling dekat dengan perjuangan ekologis, mencari sumber kehidupan bagi anak-anaknya,” kata Kalis.
 
Jihad Ekologis Ibu-Ibu
 
Ia juga mengungkapkan banyaknya gerakan melawan kerusakan lingkungan yang dimotori kaum ibu. Menurutnya, pengalaman sehari-hari membuat mereka paling peka terhadap dampak ekologi. “Jihad ekologis itu kini banyak diambil alih ibu-ibu. Karena mereka tahu, kalau tanah rusak dan air tercemar, anak merekalah yang paling dulu menderita,” tegasnya.
 
Peran Negara dan Ekoteologi
 
Sejalan dengan itu, Kementerian Agama menegaskan pentingnya ekoteologi sebagai program prioritas. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menyebut penguatan perspektif keagamaan dalam isu ekologi sebagai langkah strategis menghadapi krisis lingkungan.
 
“Kementerian Agama berkomitmen menjadikan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas. Karena menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga perintah agama yang menyangkut keberlangsungan hidup umat,” kata Arsad.
 
Ia menambahkan, moderasi beragama, isu gender, dan kepedulian lingkungan berjalan beriringan. “Nilai-nilai syariah mengajarkan keseimbangan dan keberlanjutan, yang harus diterjemahkan dalam aksi nyata bersama masyarakat,” ujarnya.
Tagar Terkait:
#ModerasiBeragama#KUA#BinaSyariah#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial FN · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.