Pemuda sebagai Lokomotif Perubahan

Pemuda sebagai Lokomotif Perubahan
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Sumpah Pemuda 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Minggu, 01 November 2026 

Pemuda sebagai Lokomotif Perubahan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَنَا وَهَدَانَا، وَأَمَرَنَا بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالْإِحْسَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Namun, apakah para pemuda saat ini benar-benar mewarisi semangat Sumpah Pemuda? Adakah semangat persatuan dan pergerakan yang tumbuh di dada anak-anak muda kita? Adakah semangat untuk terus berjuang mengubah diri dan masyarakatnya menajdi lebih baik? Ataukah Sumpah Pemuda tersisa sekadar upacara, pakaian adat, pembacaan ikrar, dan meneriakkan slogan dengan lantang. Semangat Sumpah Pemuda seharusnya dihidupkan dalam tindakan nyata, dalam keberanian melawan ketidakadilan, dalam kesungguhan menuntut ilmu, dan dalam kepedulian terhadap nasib bangsa.

Pemuda tidak diciptakan untuk sekadar menjadi penonton sejarah. Pemuda harus menjadi lokomotif perubahan: menggerakkan gerbong pendidikan, menarik gerbong keadilan, mendorong gerbong kemanusiaan, dan membawa bangsa menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Namun, lokomotif tidak hanya membutuhkan sumber tenaga yang cukup untuk bergerak. Lokomotif juga harus memiliki arah. Sebab, tenaga besar tanpa arah hanya akan mempercepat perjalanan menuju kehancuran. Pemuda yang menjadi lokomotif perubahan harus memulai dari tiga hal. Pertama: jadilah pemuda yang memiliki iman, ilmu, dan keberanian moral. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 13:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى.

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.

Perhatikan, jemaah sekalian! Ketika Allah mengisahkan para pemuda penghuni gua atau Ashhabul Kahfi, salah satu hal yang ditonjolkan adalah keteguhan mereka dalam menjaga keimanan di usia muda. Mereka tidak membiarkan tekanan lingkungan menghapus keyakinan dan prinsip yang benar.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa mereka adalah para pemuda yang menerima kebenaran dan lebih terbuka terhadap petunjuk. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir juga menghubungkan kisah ini dengan banyaknya generasi muda yang menyambut dakwah Rasulullah saw.

Apa pelajarannya? Usia muda bukan alasan untuk menunda kebaikan. Justru masa muda merupakan kesempatan membangun prinsip sebelum kehidupan dipenuhi kepentingan dan kebutuhan. Rasulullah saw juga menyebut salah satu golongan yang memperoleh naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ.

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Kedua: jadilah pemuda yang bersatu dan bekerja, bukan terpecah dan saling menjatuhkan. Allah Swt berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. (Q.S. Ali ‘Imran: 103).

Ayat ini mengajarkan persatuan yang berlandaskan kebenaran, bukan persatuan yang membenarkan kebatilan. Perbedaan bukan alasan untuk saling membenci, tetapi kesempatan untuk bekerja sama dalam kebaikan.

Bukankah sejarah bangsa ini membuktikannya? Pada 27–28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Mereka tidak menunggu semua perbedaan lenyap untuk membangun persatuan. Mereka justru menyatukan tekad ketika perbedaan masih ada.

Ketiga: bangkit dari kemalasan dan ubah potensi menjadi kontribusi nyata. Allah Swt berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini bukan janji bahwa setiap keinginan pasti tercapai hanya dengan mengubah pikiran. Ayat ini mengingatkan bahwa perbaikan sosial membutuhkan perubahan manusia, ikhtiar, dan tanggung jawab. Kita tidak boleh menuntut keadaan menjadi lebih baik jika kita sendiri terus memelihara kebiasaan yang merusak.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Ingatlah kisah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang diutus Rasulullah saw. ke Madinah sebelum hijrah untuk mengajarkan Islam. Dengan ilmu, kesabaran, dan akhlaknya, ia berperan penting dalam memperkenalkan dakwah Islam kepada masyarakat Madinah. Kisahnya dikenal dalam literatur sirah, antara lain Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir.

Mush’ab tidak menunggu menjadi tua untuk bermanfaat. Ia tidak menunggu memiliki kekuasaan untuk berkontribusi. Ia membuktikan bahwa pemuda yang memiliki ilmu, iman, dan tanggung jawab dapat memainkan peran besar dalam perubahan masyarakat. Mari kita jadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai titik evaluasi: sudahkah iman kita memperbaiki akhlak? Sudahkah ilmu kita menyelesaikan masalah? Sudahkah persatuan kita melahirkan kerja nyata?

Jangan sampai ketika bangsa ini membutuhkan lokomotif, kita justru menjadi gerbong yang teronggok dan diabaikan di luar stasiun karena malas bergerak. Semoga Allah menjadikan generasi muda Indonesia generasi yang saleh, cerdas, amanah, cinta damai, dan bermanfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُۥ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُۥ لَا شَرِيكَ لَهُۥ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُۥ وَرَسُولُهُۥ، الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُۥ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَأَصْحَابِهِۦ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُونَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُۥ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُۥ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِۦ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.