Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Palu Jadi Kota Terakhir Program Deradikalisasi 2015

Palu, Bimasislam— Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi kota terakhir yang menyelenggarakan Sarasehan tentang Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama pada Tahun Anggaran 2015. Sarasehan serupa sebelumnya telah digelar di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Semarang, dan Mataram. Sarasehan yang bertujuan untuk menanggulangi pagam keagamaan yang intoleran dan mengedepankan kekerasan tersebut dilaksanakan oleh Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama.
 
Sama dengan agenda di kota-kota sebelumnya, Sarasehan tentang Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama di kota Palu menghadirkan pembicara dari para pakar radikalisme, baik dari instansi pemerintah maupun akademisi. Hadir sebagai pembicara antara lain dari Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Badan Intelkam Mabes Polri, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, serta akademisi pengamat gerakan terorisme.
 
Dalam paparannya, sekretaris Ditjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin, mengatakan bahwa Bimas Islam memiliki kepentingan dalam program deradikalisasi ini terutama guna menguatkan kerukunan internal sesama umat Islam. Sebab, katanya, gerakan radikal berbasis agama tidak memiliki toleransi dan kerap mengedepankan kekerasan pada kelompok lain yang memiliki paham keagamaan berbeda. Hal ini, lanjut Amin, berpotensi mengancam kerukunan nasional, mengingat jumlah umat Islam di Indonesia merupakan penduduk mayoritas, bahkan terbesar di seluruh dunia.
 
Sementara itu Rektor IAIN Palu, Zainal Abidin, mengajukan gagasan Islam Nusantara sebagai ciri khas keberislaman di Indonesia yang moderat, ramah, dan toleran, sebagai model keagamaan yang menolak radikalisme. “Namanya boleh Islam Nusantara, boleh Islam berkemajuan, boleh Islam Wasathiyah, atau Islam jalan tengah, namun yang terpenting adalah bagaimana menghadirkan sikap keeragamaanyang ramah, toleran, dan moderat.” katanya.
 
Kegiatan yang berlangsung satu hari pada 7 Desember itu diikuti oleh 200 peserta dari ormas Islam, tokoh agama, pimpinan pondok pesantren, serta aparat keamanan. Sarasehan dilaksanakan di Hotel Swillbell Silae, Palu. Diskusi berlangsung cukup hangat bukan saja dari peserta kepada pembicara, namun juga pada sesame peserta itu sendiri. (sigit/bimasislam)
Tagar Terkait:
#Toleransi#KerukunanUmat#Pesantren#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Bimas Islam
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.