Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Nyantri Hingga Rabi Ngaji Hingga Mati

Oleh:
Nasuha Abu Bakar MA*
 
Judul tulisan ini merupakan ungkapan para kiai di pondok pondok pesantren yang sedang menyemangati serta memberikan pesan kepada santri santri supaya betah dan nyaman tinggal, belajar dan mendalami ilmu di pondok.
 
Kata “RABI” berasal dari bahasa jawa yang memiliki makna “ISTRI”, sehingga makna lengkap dari kata “NYANTRI HINGGA RABI” menjadi santri hingga menikah, dengan kata lain belajar di pondok pesantren sampai memperoleh jodoh dan pasangan hidup. Sekilas terkesan seorang guru atau kiai membatasi masa belajar para santri. Tapi memang itu kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat, banyak santri mengakhiri kisah petualangannya di dunia kaum sarungan karena memperoleh tambatan hati. Sepertinya ada relevansinya dengan ungkapan yang sering digunakan oleh pak ustadz Dzul Birri :
 
“Mautul ‘ilmi bila Fakhdzain” matinya Ilmu karena terhimpit dua paha. Maknanya, seseorang berhenti belajar disebabkan pernikahan. Kadang kita sedih juga mendengar ada anak anak baru semester tiga atau empat, belum sampai diselempangkan tali toga wisuda mendadak berhenti karena tergiur ijab dan Qabul di depan penghulu.
 
Ungkapan berikutnya adalah “NGAJI HINGGA MATI” Pesan ini sangat dalam dan sejalan dengan sabda Baginda nabi “Uthlub Al ‘Ilm minal mahdi Ilal lahdi” yang maknanya carilah ilmu sejak lahir hingga akhir hayat.
 
Para guru dan kiai di pondok pesantren memahami fitrah manusia yang berpasangan, memperoleh jodoh yang kadang waktunya sangat tidak dapat difahami oleh akal manusia. 
 
Ada yang di pondok nya menekuni bacaan dan amalan amalan karena ada keinginan mendapatkan pasangan, tetapi belum juga datang jodoh nya, mungkin masih nyangkut di alam malakut. Tapi ada juga yang tidak pernah menekuni amalan, tiba tiba muncul jodoh nya. Itulah yang namanya jodoh ada pada kewenangan Allah semata.
 
Nyantri bisa saja berhenti karena telah hadir pujaan hati merupakan titipan Ilahi, tetapi yang namanya ngaji, mencari ilmu tentu saja tidak akan berhenti kecuali ajal menjemput yang memberhentikannya. Itulah pesan mulia para kiai. 
 
Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan.**

*Pengasuh Pesantren Sabiluna Kota Tangerang Selatan
 
Tagar Terkait:
#InfoNikah#Pesantren#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Bimas Islam
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.