Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Menag: Perbedaan Teknis Hisab Rukyat Perlu Dijawab dengan Fikih dan Teknologi

Wajo, Bimas Islam— Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan, tantangan hisab rukyat di era digital perlu dijawab melalui penguatan fikih dan pemanfaatan teknologi secara seimbang. Hal tersebut disampaikan Menag melalui tayangan video pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Hisab Rukyat di Wajo, Sulawesi Selatan, Jumat (19/12/2025).
 
Menag menyampaikan, syiar Islam, termasuk penetapan awal bulan hijriah, harus terus dikembangkan seiring dinamika dan kemajuan zaman. Pemanfaatan teknologi, menurutnya, menjadi kebutuhan untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi, namun tetap harus berpijak pada prinsip-prinsip syariah.
 
“Semakin canggih teknologi, semakin penting kita beradaptasi. Namun perlu diingat, urusan agama bukan semata teknologi, melainkan syariah,” ujar Menag.
 
Menag mengingatkan bahwa penentuan awal bulan memiliki landasan syariah yang kuat sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. “Berpuasalah ketika melihat bulan dan berbukalah ketika melihat bulan,” tuturnya.
 
Meski demikian, Menag mengakui adanya perbedaan pandangan di kalangan umat Islam terkait penggunaan rukyat dan hisab. Di Indonesia, pendekatan penetapan awal bulan memberi ruang bagi hisab sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah yang mendukung proses pengambilan keputusan keagamaan.
 
“Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Silakan berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut berkembang menjadi konflik,” tegasnya.
 
Melalui pelaksanaan Bimtek ini, Menag berharap berbagai perbedaan teknis dalam praktik hisab rukyat dapat dikelola secara ilmiah, objektif, dan beradab. Ia menilai forum teknis seperti Bimtek menjadi sarana penting untuk mempertemukan pemahaman fikih dengan perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat ukhuwah dan kebersamaan umat.
 
Menag juga menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren As’adiyah yang telah menjadi tuan rumah kegiatan. Ia berharap hasil Bimtek dapat memberi manfaat nyata dan berkelanjutan dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia hisab rukyat di daerah.
 
Lebih lanjut, Menag menjelaskan, Bimtek Hisab Rukyat di Wajo diarahkan untuk meningkatkan kompetensi peserta, baik dalam memahami dasar-dasar syariah maupun dalam penerapan teknologi observasi. Dengan pendekatan tersebut, Kementerian Agama menargetkan terwujudnya praktik penetapan awal bulan yang akurat, inklusif, dan tetap berlandaskan fikih.
Tagar Terkait:
#KUA#BinaSyariah#Pesantren#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial FN · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.