Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Melestarikan Nilai-Nilai Kemabruran Haji Sepanjang Hidup

Oleh:
Drs. H. Subiono. M.Pd*

 
Saudaraku, pada saat telah tiba tanggal 9 sampai dengan tanggal 13 Zulhijjah setiap tahunnya, maka para tamu Allah SWT  dengan jumlah jutaan  datang dari setiap sudut bumi, seakan akantumpah ruah,memenuhi setiap sudut kota Makkah, Arofah, Mina dan Mudzdalifah. Mereka berkumpul untuk  mengikuti rangkaian pelaksanaan ibadah haji.  Momen tersebut merupakan kenangan indah dari setiap orang Islam yang pernah menjalankan Ibadah haji,  dan sekaligus momentum yang paling di nanti  oleh setiap jama’ah. Yang pasti,mereka semua tidak ada harapan dan do’a yang paling utama yang dipanjatkan kecuali memohon dengan keikhlasan kepada Allah agar  ibadah hajinya  diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan predikat sebagai haji yang mabrur.
 
Predikat haji yang mabrur itulah merupakan tujuan ibadah haji seseorang, karena dalam salah satu Haditsnya Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa,“haji yang Mabrur itu tidak ada balasan lain dari Allah kecuali balasan surga,“ (HR. Bukhori dan Muslim).Kemabruran haji seseoranmg sesungguhnya bukan semata-mata dilihat dari aspek, syarat, rukun, wajib yang dilaksanakan seseorang selama menjalankan ibadah haji, akan tetapi juga terkait dengan niatan seseorang untuk pergi haji apakah pergi hajinya seseorang itu berniatsemata-mata karena niat mencari keridhaan Allah, berniat berwisata, berdagang atau niat yang lainnya, apakah pula yang dikerjakan selama di tanah suci apakah ibadah, sekedar jalan-jalan atau apa,  juga terkait dengan  harta  yang dipergunakan, apakah sumber harta yang dipergunakan untuk haji itu bersumber dari harta yang halal atau sebaliknya harta yang haram.
 
Selain aspek aspek tersebut, maka kemabruran haji seseorang  dapat juga dilihat dari aspek ibadah dan perilaku seseorang sesudah selesai menunaikan ibadah hajinya. Dalam kaitan inilah secara khusus teladan kita Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan tuntunan tentang tanda tanda kemabruran haji seseorang yang bisa dilihat dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Para sahabat  pernah bertanya kepada Rasulullah Muhammad SAW, “apakah haji yang mabrur itu wahai Rasulullah , Rasulullah menjawab haji yang mabrur itu adalah, memberi makan kepada yang memerlukan dan menebarkan salam perdamaian,”(HR. Imam Ahmad).Dari hadits ini dapat di tarik kesimpulan bahwa tanda-tanda kemabruran haji seseorang dapat dilihat dari perilaku pasca haji yang di tandai dengan sikap dan perbuatan antara lain:
 
1. Thoyibul Kalam(santum dalam bertutur kata).
Seseorang sebelum berangkat haji barang kali sering bertutur kata yang sering menimbulkan pertentangan, menimbulkan keributan bahkan acap kali sering membuat orang lain tidak nyaman dengan perkataannya, sehingga menimbulkan keributan, saling cek-cok, saling membenci, maka sesuadah haji hendaknya mampu merubah tutur katanya kepada perkataan yang menyejukan, mendamaikan, menentramkan. Kita sering dapat melihat betapa banyak masalah yang timbul yang bersumber ketidak mampuan seseorang dalam menjaga lisannya.
 
2. Ifsya’us Salam  (Menebarkan perdamaian).
Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji bukanlah sebuah komunitas tersendiri yang terpisah dari lingkungan masyarakatnya, jama’ah haji adalah bagian dari komunitas masyarakat itu sendiri . Oleh karena itulah selepas ibadah haji seorang yang telah memperoleh gelar haji hendaknya dapat menciptakan nilai-nilai kesejukan, karamah tamahan, menyebarkan perdamaian, nilai-nilai ukhuwah dan persaudaraan dilingkungannya masing-masing, jangan malah berbuat yang  sebaliknya menimbulkan pertentangan.
 
3. Ithamut Tho’am(Kepedulian sosia/ memberi makan yang memerlukan)
Kemabruran itu juga dapat dilihat pada kepekaan seseorang untuk mau berbagi dengan sesama, dengan melihat dan memberi bantuan kepada sesama yang barang kali rizkinya, tidak sebanyak yang sudah haji. Kepedulian bahwa di sekelingnya masih ada fakir, miskin, anak-anak yatim piatu, kaum dhu’afak yang memerlukan uluran  tangganya, karena dalam harta orang kaya itu ada bagian untuk orang-orang Dhu’afak.
 
Kisah Sufi, Menggapai Mabrur meskipun tidak sampai ke Tanah Suci.
Ada sebuah kisah sufi yang sangat menarik untuk direnungkan.  Perjalanan haji Abdullah bin Mubarrok ke tanah suci  terhenti  sampai ia di kota  kuffah. Dia melihat seorang wanita sedang mencabut bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai.  Ini bangka atau sembelihan yang halal tanya dalam hatinya.  Tanya Abdullah menyakinkan, bangkai jawab si perempuan itu dan aku akan menghabiskan dengan  keluargaku.  Ulama yang zuhud ini  heran, ternayata di kuffah ini masih ada keluarga yang makan bangkai, dan ia pun mengingatkan bahwa makanan itu adalah haram, tetapi si perempuan itu mengusirnya, Abdullah lalu pergi dan kembali datang berulang kali, sampai akhirnya wanita itu bercerita, bahwa dia mempunyai beberapa anak  yang sudah beberapa hari ini tidak dapat makanan untuk menghidupi mereka.
 
LantasAbdullah bergegasdan kembali lagi dengan membawa perbekalan, makanan, pakaian  dan bekal lainnya. Ambillah ini semua  untukmu bilang Abdullah.Waktu berjalan terus dan tanpa di sadari oleh Abdullah bahwa musim haji telah berakhir, dan ia memutuskan bermukim di kuffah sampai musim haji benar-benar berakhir, sampai akhirnya ia ukut pulang bersama  rombongan jama’ah haji lainnya.
 
Begitu tiba di kampung, Abdullah puas dengan masyarakat yang menyambutnya  dan semua masyarakat mengucapkan atas selasai nya ibadah haji Abdullah, meskipun ia sudah berkali kali menjelaskan bahwa ia tidak sempat menjalankan ibadah haji, Abdullah malu. Sementara teman temanya yang berhaji menyuguhkan cerita lain tentang Abdullah, bahwa  temannya menitipkan bekal dan ia mengambilnya di Arofah kepada Abdullah,  yang lain menceritakan bahwa Abdullah lah yang memberi munum untuknya, dan yang lain cerita juga bahwa Abdullah pula yang membelanjakan keperluan-keperluan dia disana. Dan semua temannya membenarkannya.
 
Hingga suatu malam Abdullah bermimpi  mendapat suara, Hai Abdullah, Allah telah menerima  amal sedekahmu,  dan mengutus  malaikat yang menyerupai sosokmu dan Allah sudah menerima ibadah hajimu (Dinukil dalam kitab An-Nawadir, karya Syekh Syihabuddin,  ahmad bin Sulaiman Al-Qulyubi).
 
Dari kisah ini sesungguhnya bisa di ambil nilai-nilai edukatif  bahwa ritual ibadah haji itu penting, akan tetapi  di dalam ibadah haji juga mengandung dimensi  spritual, dan  sosial kemasyatrakatan yangsubstansinya harus tetap di jaga dan  dilestarikan  oleh jamaah haji dan kaum muslimin sepanjang hidupnya, yakni bahwa selepas haji bukan berarti semuanya telah berakhir, tetapi setelah ibadah haji hendaknya ada peningkatan dalam beribadah dan akhlakul karimah nya semakin baik baik dalam kehidupan sehari-hari, baik secara indifidu maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Semoga semua jamaah haji kita memperoleh predikat sebagai haji yang mabrur. Amin.
 
*Penghulu Madya KUA Kec. Arut Selatan Kab. Ktw. Barat Provinsi kalimanatan Tengah
Tagar Terkait:
#KUA#ProdukHalal#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Bimas Islam
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.