Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Kemenag Latih 100 Pendakwah di Wonosobo Integrasikan Ekoteologi dalam Moderasi Beragama

Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Dakwah Khusus di Kabupaten Wonosobo dengan fokus pada integrasi ekoteologi dalam praktik moderasi beragama. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 penceramah dari ormas Islam, majelis taklim, penyuluh agama, MUI, akademisi, dan unsur Kantor Kemenag setempat.
 
Bimtek di Wonosobo menjadi penutup rangkaian pelatihan serupa di sejumlah daerah dan merupakan lokasi ke-10 sekaligus terakhir pada tahun ini. Analis Kebijakan Ahli Muda Subdit Dakwah dan Hari Besar Islam, Subhan Nur Mahmud, menyatakan bahwa penguatan wawasan keagamaan dan kebangsaan menjadi inti pelaksanaan Bimtek.
 
“Bimtek Dakwah Khusus ini bertujuan memperkuat wawasan keagamaan dan kebangsaan. Dakwah harus dilandasi literasi dan didorong oleh niat lillahita'ala,” ujar Subhan.
 
Ia menambahkan, dakwah yang efektif perlu berakar pada pengetahuan (iqra), motivasi spiritual (lillah), serta orientasi pada penguatan manusia, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, maupun lingkungan.
 
Kepala Kantor Kemenag Wonosobo, Panut, menjelaskan, kondisi indeks kerukunan daerah turut menjadi pertimbangan pemilihan lokasi. “Indeks kerukunan Kabupaten Wonosobo berada di angka 81,7, di atas rata-rata nasional. Ini mencerminkan kehidupan harmonis umat beragama yang terwujud di Wonosobo,” ujarnya.
 
Panut juga menekankan perlunya penanaman nilai kebangsaan di kalangan penceramah, seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan komitmen terhadap NKRI, sebagai fondasi dakwah yang moderat.
 
Ketua Lembaga Dakwah NU Jawa Tengah, Saiful Amar, yang hadir sebagai narasumber, mengulas keterkaitan kerusakan ekologis dengan tanggung jawab manusia sesuai ajaran al-Qur’an. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Mencintai dan menjaga kelestarian alam merupakan nilai universal dalam agama-agama,” ujarnya.
 
Amar menjelaskan, pendekatan ekoteologi dapat mendorong pandangan bahwa kerusakan lingkungan adalah krisis spiritual yang harus direspons melalui sikap adil dan seimbang terhadap alam, termasuk melalui kerja sama lintas-agama.
 
Implementasi ekoteologi diharapkan dapat memperluas pesan moderasi beragama menjadi aksi nyata, seperti pengelolaan lingkungan yang berkeadilan, pendidikan lingkungan berbasis agama, dan kolaborasi komunitas untuk menjaga sumber daya bersama.
Tagar Terkait:
#39#ModerasiBeragama#KerukunanUmat#KUA#PenyuluhAgama#BimasIslam#KemenagRI

Kontributor & Unit Kerja

Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.

Reporter
Inisial FN · Tim Peliput
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter
Editor
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor
Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto
Unit Kerja
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenLihat berita unit kerja
Dipublikasikan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Berita · 26 Okt 2026

Gelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.