Akses Warga Miskin Terhadap Dana Zakat Belum Maksimal

Jakarta, bimasislam-“Pesatnya pertumbuhan lembaga pengelola zakat dan intensi gerakan zakat di tanah air belum sebanding dengan meningkatnya akses warga miskin terhadap dana zakat. Kondisi ini ditemukan pada BAZNAS di semua tingkatan maupun LAZ. Akses fakir miskin terhadap dana zakat belum maksimal.” Demikian disampaikan oleh Kasubdit Pengawasan Lembaga Zakat Direktorat Pemberdayaan Zakat M. Fuad Nasar kepada bimasislam.  

Data yang dirilis BAZNAS, pada tahun 2013 BAZNAS Pusat, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota, dan LAZ Nasional menghimpun dana zakat, infak, dan sedekah sebesar Rp 2,7 triliun rupiah. Angka tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2012 yang penghimpunannya Rp 2,2 triliun rupiah atau terjadi pertumbuhan sebesar 22,73 persen. Di atas kertas tidak ada masalah dengan pendistribusian zakat karena penerima manfaat zakat mengalami peningkatan dalam angka diagram.   M. Fuad Nasar yang juga Wakil Sekretaris BAZNAS sepakat dengan pandangan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Prof. Dr. Machasin yang menyampaikan bahwa kalau dibagi menurut persentase sesuai dengan asnaf penerima zakat dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 60, maka 65 persen dana zakat adalah untuk orang-orang yang berkekurangan.  

Menurut Fuad Nasar. “Sekarang coba periksa, sudahkah kebijakan penyaluran di setiap lembaga pengelola zakat memprioritaskan orang-orang yang berkekurangan itu dari segi jumlah dana yang disalurkan maupun kecepatan proses penyalurannya. Banyak lembaga pengelola zakat lebih mengedepankan program-program yang kelihatan secara fisik sebagai etalase lembaga. Tidak sedikit lembaga pengelola zakat yang memiliki saldo dana menumpuk di akhir tahun karena tidak tersalurkan, sementara mustahik yang membutuhkan begitu banyak di sekitar kita. Mari analisa dari sudut pandang yang lain bahwa model-model program pendayagunaan zakat yang dari segi teori marketing dan komunikasi lembaga dianggap bagus, belum tentu efektif dan efisien untuk mengatasi masalah kemiskinan di negara kita dan membantu warga miskin yang kini bertambah.”   Menyinggung peran lembaga zakat di bidang kesehatan, Fuad memandang bahwa dengan adanya program jaminan kesehatan untuk rakyat miskin yang digulirkan secara masif oleh pemerintah, maka lembaga pengelola zakat perlu mempertimbangkan signifikansi layanan kesehatan gratis yang selama ini dikembangkan untuk pelayanan dasar. Sekarang masyarakat miskin bisa mendapatkan layanan kesehatan dasar yang baik di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum, tanpa dipungut biaya. “Jika lembaga pengelola zakat membuat program kesehatan, akan lebih baik misalnya menyediakan layanan cuci darah (hemodialisa) dan perawatan kanker kerjasama dengan rumah sakit, program rehabilitasi mental anak jalanan, dan sebagainya. Barangkali sebagian orang akan mengatakan, penyediaan alat layanan kesehatan semacam itu membutuhkan biaya yang mahal. Saya akan jawab, untuk itulah dana zakat yang triliunan rupiah terkumpul dimanfaatkan, di samping untuk kebutuhan lainnya guna peningkatan kualitas umat. Program layanan kesehatan yang bersifat khusus jauh lebih besar manfaatnya bagi warga miskin yang membutuhkan namun tidak punya biaya dan tidak terlayani melalui fasilitas rumah sakit pemerintah. BAZNAS dan LAZ bisa masuk ke situ guna memecahkan kesulitan warga miskin.” tuturnya.     Fuad Nasar berharap kalangan praktisi zakat di BAZNAS dan LAZ harus terbuka menerima dan bahkan mencari masukan dari masyarakat demi untuk perbaikan pelayanan zakat ke depan. Para amil zakat tidak boleh bermental ambtenaar dan priyayi. Contoh yang sederhana, kita tidak ingin mendengar ada pimpinan di sebuah lembaga pengelola zakat yang sulit ditemui oleh mustahik. Lembaga pengelola zakat juga harus transparan ketika diaudit oleh pemerintah dan harus bersedia membuka data biaya operasional dan standar gaji para amilnya. Mengelola lembaga zakat tidak sama dengan mengelola perusahaan atau mengelola dana perbankan. Setiap orang di lembaga pengelola zakat harus menempatkan diri sebagai pekerja sosial dan pelayan umat yang profesional, akuntabel dan memegang teguh keikhlasan.      

M. Fuad Nasar selaku anggota Panitia Seleksi Calon Anggota BAZNAS masa kerja 2015-2020 mengapresiasi capaian perkembangan zakat nasional sampai menjelang akhir tahun 2014. Meski jauh di bawah terget, pengumpulan zakat, infak dan sedekah di BAZNAS diperkirakan meningkat dari Rp 63 milyar di tahun 2013 menjadi sekitar Rp 80 milyar pada akhir tahun ini. Ia mengingatkan BAZNAS dan LAZ agar “pandai-pandailah merangkuh dayung”.   Dengan landasan Undang-Undang Pengelolaan Zakat, Peraturan Pemerintah serta Peraturan Menteri, ditekankan bahwa BAZNAS dan LAZ harus terintegrasi sistem pengelolaan dan pelaporannya sehingga mempunyai peluang berbuat yang lebih banyak dalam upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kualitas umat seiring dengan meningkatnya zakat, infak dan sedekah yang dihimpun. Namun dipesankan, “Jangan semua ingin dikerjakan oleh BAZNAS dan LAZ, tapi berikan apa yang dibutuhkan umat secara tepat. Hindari program-program yang biaya operasionalnya tinggi. Dalam setiap langkah dan inovasi tidak boleh keluar dari ketentuan syariah dan garis kepatutan serta jalin kerjasama yang solid dengan Kementerian Agama sebagai leading sector di pemerintahan.” pungkasnya. (mfn/foto:bimasialam)